INDAHNYA JIKA SALING BERBAGI, MERIAHNYA JIKA SALING MEMBERI,DAN MANISNYA JIKA SALING MENGHARGAI

Mengenai Saya

Foto saya
sederhana dan kerja keras

Entri Populer

Minggu, 14 Agustus 2011

UU 12-2010 Gerakan Pramuka.pdf - 4shared.com - berbagi-pakai dokumen - unduh - UU 12-2010 Gerakan Pramuka.pdf

UU 12-2010 Gerakan Pramuka.pdf - 4shared.com - berbagi-pakai dokumen - unduh - <a href="http://www.4shared.com/document/SEdKw-mF/UU_12-2010_Gerakan_Pramuka.html" target="_blank">UU 12-2010 Gerakan Pramuka.pdf</a>

Blog Foto: Kumpulan Logo Jambore Nasional Pramuka

Kamis, 11 Agustus 2011

SURAT TERAKHIR

Senja telah berganti malam. Cahaya matahari kian redup, tinggalkan bias yang mengukir warna merah jingga menghias tepi segumpal awan. Lentera raksasa itu telah tenggelam di batas cakrawala, menghilang di balik ombak Pantai Sanggigi yang bergemuruh, berganti cahaya bulan purnama dan gemerlap sinar lampu berwarna warni. Bandar Udara Selaparang mulai sunyi. Hiruk pikuk suara pesawat yang datang dan pergi sejak pagi melalui bandar udara domestik itu tak lagi terdengar. Beberapa orang petugas keamanan dan tukang sapu masih setia menjalankan tugas mereka.
“Pesawat dari Jakarta sudah tiba, Nak?” Seorang kakek yang setia menunggu di pintu kedatangan bertanya kepada petugas keamanan yang melintas di depannya.
“Sudah, dua jam yang lalu,” sahut petugas keamanan itu singkat.
“Lo, saya sudah menunggu di sini sejak sore. Penumpangnya keluar lewat pintu mana?”
“Ya lewat sini, Kek. Ini satu-satunya pintu kedatangan di bandara ini,” sahutnya sambil berlalu.
“Wah, jangan-jangan Imam sengaja mempermainkan aku. Anak itu belum juga berubah!” Gerutu kakek sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kakek mulai curiga pada Imam, anaknya yang telah menghilang tak tentu rimbanya lima belas tahun silam. Tadi pagi, anak hilang itu tiba-tiba menelepon ke Kantor Kepala Desa. Ternyata ia masih hidup, bahkan ia meminta kakek menunggu kedatangan cucunya di Bandar Udara Selaparang.
Kakek semakin curiga, Imam tak pernah menyebut ciri-ciri orang yang ditunggunya. Yang ia tahu, cucunya bernama Topan. Orang tua itu pun menunggu, hanya dengan rasa percaya diri bahwa cucunya pastilah mirip dengan Imam. Rasa bosan menunggu sedikit terobati oleh iming-iming akan segera bertemu cucu. Mungkin saja kehadiran Topan bisa mengobati luka dan kesedihan setelah lama kehilangan Imam. Namun hingga bandar udara itu lengang, yang ditunggu tak kunjung datang.
Dalam kebimbangannya menunggu, khayalan kakek menerawang jauh ke masa silam. Masa kecil dan masa remaja Imam yang diasuhnya dengan penuh kasih sayang. Ia anak laki-laki beliau yang masih satu rumah dengannya. Saudara laki-laki Imam satu-satunya adalah Taslim, telah berumah tangga dan tinggal di rumahnya sendiri. Imam hidup dan dibesarkan seakan-akan sebagai anak tunggal. Mungkin itu yang membuat Imam tumbuh menjadi anak yang manja namun keras hati. Ia suka membantah dan susah diatur. Apa yang ia inginkan harus selalu terkabulkan. Walau demikian, orang tua dan keluarganya senantiasa bersabar membimbing dan membesarkan Imam.
Kini Imam hanya kenangan dan impian belaka bagi keluarganya. Imam telah pergi entah kemana, hilang lenyap bagai sebutir batu yang dilempar ke tengah danau, tenggelam dan tak pernah timbul kembali. Pupus sudah harapan untuk menjadikan Imam sebagai tulang punggung keluarga kelak. Bagi kakek, lenyapnya Imam jauh lebih menyakitkan dibanding lenyapnya harta. Berbagai cara telah dilakukan oleh keluarga agar Imam mau kembali. Harta bendapun dikorbankan, tapi semua usaha itu sia-sia belaka.
Jika diingat-ingat, kesalahan kakek tidaklah sepadan dengan derita yang kini ia tanggung. Orang tua itu hanya mengingatkan agar Imam tidak saling memberi harapan dengan Baiq Intan, anak tetangga kampung yang menjalin cinta monyet dengan Imam di masa remaja, saat mereka masih sekolah. Saat itu cinta Imam dan Baiq Intan sedang menggebu-gebu, hingga nasehat orang tua pun tak pernah diindahkan. Imam bahkan menganggap orang tuanya terlalu memaksakan kehendak.
“Kita ini kaum jajar karang, Nak. Keluarga kita jelas berbeda dengan keluarga mereka,” kata kakek kala itu.
“Apa bedanya, Ayah? Kita makan nasi, apakah mereka makan emas?” Tanya Imam sengit. Darah mudanya terbakar oleh ketidakadilan yang ia dapatkan. “Tuhan menciptakan manusia sama, mengapa harus dibeda-bedakan?”
“Itulah yang harus kita pahami, Nak. Ini perkara adat, masalah turun temurun yang tak mungkin kita hapus begitu saja. Melanggar undang-undang negara ada hukumannya. Melanggar tata krama adat pun ada sanksinya. Ayah tak ingin dinilai sebagai orang tua yang tak tahu adat,” kata kakek mencoba meredakan gundah gulana yang berkecamuk dalam pikiran Imam.
“Tapi kami saling mencinta, Ayah. Hati kami sudah terpaut menyatu. Apakah ayah tega dengan berdalih menjunjung tinggi adat istiadat, lalu sampai hati memisahkan kami. Mengapa Ayah tega menghancurkan benih-benih cinta yang telah kami bina. Intan sendiri yang berdarah bangsawan tak pernah menganggapku sebagai anak bulu ketujur. Ia memandang kita sama dengan memandang yang lainnya. Ia juga mencintai aku tulus tanpa paksaan,” kata Imam berusaha meyakinkan ayahnya.
“Ayah paham, tetapi keluarga Baiq Intan tak bisa menerimanya. Ayah juga tak ingin kamu menderita pada akhirnya. Semua terserah kamu, jika berani berbuat, tentu harus berani bertangung jawab. Tapi Ayah mohon, sebelum kalian terlanjur melangkah lebih jauh, berkacalah pada pengalaman kakakmu, Taslim yang menikah dengan anak perawan kaum bangsawan. Hingga sudah beranak tiga, belum juga diakui sebagai anggota keluarga oleh mertuanya. Mereka telah dianggap sebagai orang hilang yang tak pernah ada dalam silsilah keluarga. Itu akan berlanjut entah sampai kapan. Cobalah renungkan dalam-dalam dengan pikiran jernih. Boleh saja hari ini cintamu menggebu, tapi dapatkah kamu pertahankan hingga nanti? Sanggupkah kamu menjalani hidup seperti itu? Apalah artinya hidup berumah tangga tanpa restu orang tua?”
Imam tak kuasa lagi berbalas kata dengan ayahnya. Ia tahu ayahnya hanya kaum lemah yang tak berdaya, korban garis tangan dilahirkan sebagai kaum jajar karang. Rasa sakit hati pun harus ia pendam dalam-dalam. Ia menangis tapi air matanya tidak tumpah. Ingin memberontak, tapi tak tahu kepada siapa. Imam mengakui, sesungguhnya semua ungkapan ayahnya tidaklah berlebihan meski sangat sulit ia terima. Daripada berseberangan paham dan berselisih kata dengan sang Ayah, Imam mengambil langkah sendiri. Ia memilih pergi menjauh dari pandangan mata Baiq Intan, membunuh dan mengubur dalam-dalam benih kasih dan rasa cinta yang sedang menggelora pada gadis kecil itu, sekaligus menjauh dari kedua orang tua dan seluruh keluarganya. Memang sakit, namun itulah kisah pahit yang harus dilakoninya.
Sejak saat itu, tak ada lagi berita yang berarti tentang Imam. Di pantai mana ia terdampar, di dermaga mana perahu layar yang ditumpanginya berlabuh, tak seorang pun yang tahu. Ia pergi tanpa sepatah kata pesan. Bekal yang dibawa pun tak ada, membuat ayah dan ibunya selalu dihantui kecemasan. Bagaimana keadaan anak itu di tanah rantau, bahagiakah atau menderita, masih hidupkah atau telah tiada. Konon, pernah sekali Imam bersurat pada Baiq Intan, surat terakhir mengabarkan buah cintanya bahwa ia terpaksa menikah dengan gadis lain.
“Dende Inges,” ungkap Imam dalam surat terakhirnya. “Simaklah dengan telinga batinmu ratap pilu hatiku ini. Tak ada sakit sepedih hati saat surat ini aku tulis. Tingginya Gunung Rinjani, tak setinggi cita-citaku untuk mempersuntingmu, agar bersama seia sekata, hidup dalam mahligai rumah tangga yang kita dambakan. Luasnya Danau Segara Anak tak seluas ruang khayalku, tentang sebiduk kita bersama mengarungi danau cinta yang tak pernah berhenti beriak. Namun Inges, aku berusaha tegar tapi apalah dayaku, anak bulu ketujur nan hina dina ini di hadapan keluargamu. Tidak aku sesali terlahir sebagai orang biasa, tidak juga mendendam dan iri hati atas keberuntungan engkau, terlahir sebagai anak bangsawan yang terpandang. Yang kutangisi; mengapa mencinta ada batasnya, mengapa anak bulu ketujur tak berhak bersanding dengan kaum bangsawan. Aku tak ubahnya pungguk merindukan bulan, mendamba sesuatu yang tak mungkin bisa kugapai. Aku berdiri kebingungan di persimpangan jalan, tersesat dalam pilihan yang sungguh sulit. Aku tak mungkin melawan arus, menentang adat leluhur kita yang konon harus terus hidup dan dipertahankan. Tapi percayalah Inges, tak ada tempat bagi cinta lain di hatiku. Biarlah jasadku ini menjalin hidup bersama orang lain, namun tali jiwa pengikat cintaku tetap tersimpul erat padamu. Kalaulah bibirku bisa tersenyum, namun ketahuilah hatiku yang remuk redam senantiasa menangisi keadaan ini. Aku pun sadar, mungkin inilah nasib yang harus kita jalani, bahwa cinta sejati tak harus memiliki. Apalah artinya saling menunggu, terombang ambing dalam gelombang ketidakpastian. Penantian yang tiada berguna. Bukankah kesempatan untuk bersatu kembali sudah tertutup rapat, jodoh kita telah terpisah jauh oleh jurang adat yang lebar menganga, hanya menyisakan luka hati yang sangat pedih. Dan jika suatu saat kamu bisa melupakanku, aku rela kamu dipersunting orang lain yang sepadan sederajat dengan martabat keluargamu, meski sungguh sakit membayangkannya,” demikian Imam mengakhiri suratnya.
Berita itu membuat jiwa Baiq Intan goncang. Diremasnya surat itu hingga hancur tak terbaca lagi. Betapa luluh jiwanya. Luka hati yang belum terobati akibat kepergian Imam meninggalkannya, kini luka baru kembali menyayat dan mengoyak hatinya. Ia tak percaya kenyataan, tak pernah menduga tambatan jiwanya yang begitu ia bela dan agung-agungkan telah berpaling pada orang lain. Betapa cepat hati berubah, betapa mudah cintanya luntur, semudah saat mengucapkannya. Janji untuk sehidup semati hanya ucapan yang tak mungkin menjadi nyata. Masih terngiang di telinga Baiq Intan suara Imam yang lantang, berteriak mengalahkan debur ombak, bahwa cintanya lebih dahsyat dari gemuruh angin Pantai Senggigi, bahwa keteguhan hatinya lebih kokoh dari batu karang. Namun kini suara itu telah lenyap. Semua alasan Imam dianggapnya sebagai rayuan dan basa basi belaka. Rupanya matahari cinta Imam telah pudar, tertutup gumpalan awan hitam yang enggan berarak pergi. Kini dunia terasa gelap bagai malam saat gulita. Walau demikian Baiq Intan telah bertekad, tak ingin hatinya bergeser seinci pun untuk berpindah ke lain hati. Cinta monyetnya kepada Imam telah menjelma menjadi cinta sejati yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Biarlah Imam telah berkhianat, biarlah cahaya cinta kekasihnya itu telah memudar, tapi cinta di hati Baiq Intan tak boleh redup, harus senantiasa menyala laksana matahari yang setia muncul saat malam berganti pagi, memberi sinar kehangatan tanpa pamrih pada bumi dan seisinya. Pemuda sederhana, anak bulu ketujur itu justru membuat ia mati rasa. Betapa dalam perasaan cintanya, hingga tak ada ruang sedikit pun di hatinya bagi pemuda lain dari kasta mana pun.
Karena tak sangup menahan derita, Baiq Intan jatuh sakit. Orang tua dan keluarganya berusaha menyembuhkan duka yang dideritanya. Namun dukun dan dokter pun tak mampu mengobati. Nyatalah betapa sulit luka hatinya terobati. Dari hari ke hari tubuh Baiq Intan semakin kurus dan lemas, hingga akhirnya ajal datang menjemput. Rupanya ia lebih rela mati demi tidak menodai ketulusan cintanya pada Imam.

Rabu, 10 Agustus 2011

Cinta yang hilang

Cinta yang hilang
oleh : dirman

Kucoba tulis sebuah kata cinta...
Yang tergantung manis di atas jiwa terbuang...
Tinta pena cinta tertumpah dalam relung hati
Meluluhkan mahkota hati yang terdampar
Melepaskan butiran mutiara kasih diatas permadani sukma

Tak kuasa hati melepas rasa
Mengapit perasaan terbalut kasih sayang
Asa kian menghilang
Terbuang karena perasaan menunggu
Dan menanti hati yang tak mungkin kunjung ada

Jiwa berusaha dan tetap mengejar
Menghampiri butiran-butiran perasaan
Merasuk asmara dalam kisah semu
Cerita-cerita khayalan kian tak berarti
Merobek sukma membakar jiwa terbuang

Goresan makna cinta lambat laun menghilang
Tak terlihat lagi, kata-kata manis sang cinta
Yang pernah ada dan membekas dalam jiwa
Hingga akhirnya terbuang karena kegalauan hati
Menusuk perih ...
Menanti sampai kapan ia kembali
Membalut rasa yang pernah ada
Karena aku masih selalu cinta
Dan tetap untuk cinta

SAUDAGAR BERKAIN PERCA

SAUDAGAR BERKAIN PERCA
Oleh : Sudirman, S.Pd.


Tuhan.....,
Desah napas tubuh-tubuh mungil.. lambat laun kian hampa.
Suara-suara suci hamba kecilmu menghilang seketika..........
Tenggelam dalam larutnya dunia hampa
Tak terdengar kata-kata manis menyelimuti tubuhnya,
Yang terdengar hanyalah hayalan tak berujung

Tuhan, ......,
Mengapa Engkau biarkan
tangan-tangan pengemis berbalut kain sutera merajalela
Dan mengapa pula Engkau biarkan
Kursi raja tergadaikan tangan-tangan berdasi
Hamba kecilmu telah terkorbankan
Jiwa-jiwa kecil terbanggakan hanya untuk mengejar nama
Mengejar kekuasaan
Mengabaikan kemenangan para putera bangsa

Tuhan......,
Isak tangis wajah suci.... mengalir menahan kuasa
Kesedihan terbawa arus keruh air mata dewa
Haruskah kekuasaan akan terus tergadaiakan,
Terjual dan terbeli oleh nyali kecil pencari sisa-sisa duniawi
Hamba-hamba kecilmu menangis sedih.....
Meneteskan air mata suci yang terkorbankan.

Tuhan....,
Mengapa Engkau biarkan hati tak bernyali tertawa,
Berteriak, bersorak tak memiliki harga diri.............,
Menguasai dunia tanpa suara bermutiara hati.
Balutan kain perca bersulamkan benang-benang suram
Telah menghiasi dunia mereka
Tak ada lagi hati emas
Tak ada lagi emosi jiwa berdinding sutera
Dan tak ada lagi asa berkembang menghiasi putera bangsa
Yang ada hanyalah..........................
Kebanggaan ..............
Nama...................
dan kesombongan
“AKULAH PEMIMPINMU yang MAMPU”

Tuhan, ....
maafkanlah hamba kecilMu...
Dalam hati kecil wajah-wajah mungil
Hanya mampu tertawa lirih
BUKANKAH ENGKAU.....
“ PENGEMIS BERKAIN SUTERA PEMBELINYA”

Minggu, 26 Juni 2011

Opini

Opini
Guru Menghukum, Salahkah?
Oleh : Sudirman, S.Pd.

Sebuah pertanyaan yang selalu kontroversial bagi setiap individu dalam menanggapi dan menterjemahkan kata-kata tersebut. Sungguh ironis jika hanya sebagaian penggalan kalimat tersebut menjadikan sebuah polemik yang berkepanjangan. Banyak kejadian-kejadian kecil yang divonis mati menjadi skala besar yang tak terampuni. Sebut saja guru A di sebuah sekolah X melakukan sebuah hukuman dengan “maaf” memukul jari tangan dengan asumsi tanganlah yang berbuat karena siswa S tidak pernah menyelesaikan pekerjaan rumah maupun tugas-tugas sekolah atau karena siswa S dikategorikan siswa nakal yang selalu menimbulkan cedera teman bermainnya. Lalu salahkah tindakan tersebut?
Jika kita terjemahkan dengan sangat sederhana maksud dan tujuan pemberian hukuman sangatlah jelas namun di sisi lain menjadi sebuah kemelut yang pada akhirnya menjadikan sebuah insiden berat hingga ujung-ujungnya gurulah yang bersalah. Perlukah kita memilih, “Hukuman merupakan sebuah pembelajaran?” atau “Pembelajaran merupakan sebuah hukuman?” ataukah “Hukuman sesuatu perlakuan yang tabu dimata masyarakat?” Hanya audienslah yang mampu menterjemahkan sisi baik dan buruknya.
Sebagai pelaku pendidikan memandang wajar dan lumrah terjadi. Tetapi bagi pelaku hukum merupakan sebuah ladang yang sangat cocok ditanami bunga-bunga kertas berwarna warni. Dimanakah pendidikan berkarakter bersemayam. Undang-undang perlindungan anak sebagai senjata pamungkas menekan karakter guru. Pernahkah mereka berpikir andai putera-puteri mereka cedera karena temannya, dimanakah letak hukum itu berlaku sanggupkah mereka menelan , membungkus dan membuang kejadian-kejadian itu dalam tong sampah, lalu dimanakah mereka memposisikan guru, jika tidak bertindak dengan menghukum puaskah mereka? Ujung-ujungnya gurulah yang selalu bersalah dan tetap bersalah.
Guru sangatlah polos karena selalu ditempa dengan kejujuran dan kebaikan, meskipun benar adanya selalu mengatakan salah dan mengakui sebuah kesalahan. Sangatlah bijaksana tapi kadang menjadi sebuah bencana meskipun itu merupakan bentuk pengorbanan hati nurani demi kebebasan caci maki orang tua terhadap para siswanya.
Sangat-sangat disayangkan jika ini terus terjadi dan berkembang tanpa kepastian. Oleh karenanya tak perlu kita berkhayal tinggi mencapai pendidikan yang berkarakter dengan bungkus tipis undang-undang perlindungan anak dan tak perlu kita mengharap banyak mencapai pendidikan yang berkualitas. Sistem pendidikan diatur sewenang-wenang hanya karena kepuasan diri tanpa perduli dengan kepentingan orang banyak. Sekolah merupakan milik bersama bukan milik orang per orang, yang selalu dan harus tetap dijaga keharmonisannya. Peran orang tua sangatlah berarti.
Guru adalah sahabat, teman, dan mitra orang tua. Sebagai seorang sahabat, teman atau mitra sudah barang tentu memberikan jalan kemudahan dalam menghadapi segala permasalahan yang terjadi. Guru bukanlah musuh atau teroris yang selalu diburu, dikejar jika terjadi kesalahan. Guru tak sepatutnya dibenci, dimaki, lalu dihantar dengan hukuman dalam jeruji besi. Guru hanyalah manusia biasa yang hanya minta dihargai bukan dibeli dan dibayar dengan harga tinggi. Pernahkah kita berpikir “Siapakah yang menciptakan aku hingga seperti ini?” Hanya orang waraslah yang mengerti dan mampu menjawab, “Jasamulah yang menjadikan diriku besar dan tanpamu aku akan menjadi kerdil!”
Untuk itulah berikanlah sebuah kepastian bukan kepalsuan. Kita hanya patut bersyukur bahwa guru memberikan perhatian meskipun itu salah menurut hukum dan undang-undang. Jangan takuti segala tindakan yang dilakukan guru dengan hukum. Tak perlu dipungkiri sebagai orang tuapun menghukum jalan terbaik memberikan pelajaran agar putera-puteri kita jera terhadap sikap dan tingkah lakunya yang menurut kita salah. Secara manusiawi guru manakah yang membenci siswanya dan siswa manakah membenci gurunya? Andalah salah satu yang bisa menterjemahkan.

Sabtu, 12 Maret 2011

Cerpen

MIMPI DI SIANG HARI
Oleh : Sudirman, S.Pd.

“ Pak Rohman, sudah saatnya untuk ikuti seleksi kepala sekolah bersama Pak Wangsa,” kata Pak Pendu kepala  SD Negeri 1Tanak Kaken tempatnya mengajar. “Apa anda sudah siap?” katanya melanjutkan pertanyaan.
“Sepertinya saya belum siap, hm...belum mampu  Pak!” jawabku singkat.
“Kemampuan apa lagi yang Pak Rohman cari, sebagai kepala sekolah saya sudah menilai Bapak lebih dari cukup, dan pilihan itu tetap jatuh pada Pak Rohman termasuk Pak Wangsa yang sudah senior di sekolah kita!” jelas Pak Pendu sedikit tidak mengerti tentang pikiranku.
“Maaf Pak, saya bukan menolak tapi .....,?” kataku putus disela Pak Pendu.
‘Tapi apa lagi sih Pak, anda adalah guru yang sangat cerdas, trampil, dan sangat berprestasi tidak hanya di sekolah kita ini saja tapi di sekolah lain para guru selalu memngagumi dan membanggakan anda karena predikat yang selalu anda sandang. Ini adalah kesempatan !” kata Pak Pendu meyakinkanku.
“Bapak terlalu berlebihan menilai saya, secara pribadi saya  tidak mengejar karir tapi profesionalisme, sementara usia saya masih terlalu muda,” jawabku untuk menghindar dari pencalonan.
“Saya minta agar persyaratan tersebut dipersiapkan secepatnya!” pinta Pak Pendu lalu meninggalkanku dengan perasaan kesal.
Pagi ini semua berkas telah dipersiapkan, mulai dari ijazah sarjanaku, piagam, sertifikat, hingga keterangan lain yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan. Yang tak kalah penting adalah makalah tentang visi misi sebagai kepala sekolah juga administrasi sekolah. Semua tersusun rapi dalam portofolioku yang aku simpan di dalam tas usang yang kumiliki satu-satunya.
Teman-teman satu sekolah termasuk para siswa turut mendoakan kami agar lulus dalam seleksi. Saat bersalaman  Pak Wangsa yang juga satu sekolah denganku juga kembali mengikuti seleksi  karena berturut-turut gagal dalam pencalonan. Saat berjabatan tangan ia menanyakanku,” Sudah siap lahir batin?” Dengan ancungan jempol aku mengiyakan sambil memperlihatkan isi map portofolio. “Isi portofolio ini sudah aku hafal  termasuk  Undang-undang pendidikan hampir hafal semua!”  jawabku mantab.
“Pak Rohman, tidak cukup dengan persyaratan itu dan tidak bisa kita andalkan kemampuan otak kita saja!” kata Pak Wangsa. “Buktinya saya sendiri yang walaupun hasil saya baik tetap saja gagal karena tak punya uang,” katanya melanjutkan pembicaraan.
“Waduuh, Pak Wangsa saya jadi nggak ngerti nih!” kataku bingung dengan pembicaraannya.
“Wah...wah...wah....., anda semakin  jauh tertinggal!” sambil memberikan isyarat dengan memainkan ibu jari dan jari tengahnya lalu ia mengeluarkan lembaran uang kertas dan mengibas-ngibaskan tepat di mukaku. Akhirnya aku mengerti maksudnya menyediakan dana penyegar.
“Lalu apa hubungannya dengan dana tadi!”, kataku tambah tak mengerti.
“Temanku..., sebaiknya kita batalkan saja seleksi ini tak ada artinya bagi kita,orang yang tidak punya prestasi lebih-lebih kemampuan profesionalnya rendah tidak ikut seleksi tapi berani karena punya dana penyegar ia pasti menjadi kepala sekolah. Ini bukan rumor kenyataan teman...., Untuk itulah aku mundur ,” kata Pak Wangsa sambil mengambil kunci motor dan meninggalkanku.
Aku tak terpengaruh sedikitpun dengan sikap dan pernyataan Pak Wangsa. Aku sangat yakin dan selalu berpegang teguh dengan kemampuan dan profesionalisme yang aku miliki. Walapun tes ku jalani tanpa kehadiran Pak Wangsa. Keyakinanku akan pengetahuan dan prestasi yang kumiliki membuat perasaan menjadi  tenang. Tahap demi tahap tes aku lewati dengan hasil sangat memuaskan. Tinggal satu tahap yang harus kuikuti sebagai babak penetu keberhasilan yaitu wawancara. Segala  gagasan dan ide-ide baru aku paparkan  demokrasi pendidikan  aku dengungkan  kebijakan pemerintah tentang sistem pendidikan tidak ada satupun yang terpenggal. Diakhir paparanku aku berkata, “ Ini adalah bentuk pengabdianku dalam mencerdaskan bangsa dan negara tercinta ini!” dengan senyum puas kutinggalkan ruangan lalu menunggu jadwal pengumuman.
Pengumuman yang sudah terjadwal selalu tertunda dan tertunda lagi ‘ kebijakan-kebijakan baru bermunculan. Hingga kesempatan itu datang. Dengan senang hati siang itu selepas pulang sekolah aku terima amplop SK Kepala Sekolah. Rasa syukur terus kuucapkan. Aku begitu bahagia nama itu aku usap berkali-kali  meskipun gelar sarjana yang aku sandang tak tertera dalam  amplop tersebut. Kembali kutatap dengan mata berbinar-binar sesekali aku mencium amplop berisi SK Kepala Sekolah tersebut. “Alhamdulillah akhirnya aku menjadi kepala sekolah”, kataku bahagia sambil menyimpan amplop di tempat khusus dalam tas kecilku. Sembari bergegas pulang.
Menyambut  acara perkenalan kepala sekolah baru segala sesuatu aku persiapkan termasuk  skenario sambutan kebijakan-kebijakan baru yang menjadi ide dan gagasanku sudah kutulis rapi. Saat kepala sekolah lama usai memberikan sambutan. Aku sempat  termangu ketika namaku dipanggil pembawa acara untuk memberikan sambutan. Dengan berusaha tenang aku menghampiri podium yang telah dipersiapkan. Rasa deg-degan terus berlari getaran tanganku sedikit demi sedikit berkurang hingga napas perlahan kuatur untuk memulai sambutanku. Riuh tepuk tangan para undangan yang sebagian besar para orang tua murid terdengar kencang.
“Hadirin yang saya hormati, memulai sambutan ini paradigma pendidikan lama harus kita tinggalkan untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa yang semakin lama semakin tak tentu arahnya. Sebagai pengendali pendidikan di sekolah umum para guru dan  kepala sekolah pada khususnya haruslah memiliki ketajaman pemahaman, pemikiran dan wawasan dalam menciptakan pencitraan sekolah yang lebih baik.
Degub jantungku semakin kencang, darahku mengalir cepat seiring irama pembaharuan yang terus aku gulirkan bertubi-tubi. Aku semakin bersemangat saat tepukan tangan menyambutku kembali.
Hadirin yang saya hormati, guru dewasa ini ibaratnya anak panah yang apabila busurnya (kepala sekolah) mengarahkan mata anak panah melenceng dari sasaran maka anak panah tersebut juga ikut melenceng dari bidikan busur panah. Olehkarenanya mulai detik ini guru dan kepala sekolah seharusnya memiliki jiwa  profesionalisme yang tinggi bukan konvensionalisme yang dapat menghancurkan daya kreatifitas dan fleksibelitas dalam upaya menciptakan dan mengembangkan pendidikan kearah yang lebih baik dan mancapai kemajuan. Setuju?
Untuk itulah selaku kepala sekolah baru di tempat ini saya mengajak para guru, orang tua murid , dewan pendidikan dan para stakeholder untuk memperkuat kerjasama dalam membangun kembali citra sekolah yang sudah hampir tenggelam.Setuju?
“Dan dalam kesempatan ini pula saya berjanji agar sistem transparansi  keuangan sekolah yang tidak pernah dilakukan akan kami tingkatkan. Setuju?”
Bbbb.....
Belum berakhir sambutanku tiba-tiba pembawa acara menghentikanku lalu memintaku mengembalikan amplop berisi SK Kepala Sekolah yang sudah aku terima dan menyerahkannya kembali kepada Pak Rohman, A.Ma bukan Rohman, S.Pd. (namaku).
“Ayah......., Ayah......., banguun, ini ada surat dari Kantor Pos!”. Siang-siang begini koq masih ngigau. “Tak mungkin..... Tak mungkin... SK ini atas namaku!”
“Ayah.. istigfar...., selaku isteri ibu tidak pernah meminta ayah untuk menjadi kepala sekolah, saya bangga kepada ayah yang sudah sering menjadi pemenang dalam lomba. Bagi saya prestasi itu sudah lebih dari cukup untuk memacu prestasi anak kita!” kata istriku menyadarkan aku dari mimpi siang ini.
“Astagfirullahaladzim..... aku bermimpi”,sambil kubuka amplop surat yang baru kuterima. “Alhamdulillah,” aku mendapatkan undangan ke Jakarta sebagai pemenang lomba karya tulis ilmiah.

Recent Comments